Pages

Sabtu, 27 Juli 2013

KRATO KASUNANAN SURAKARTA JATENG

Penasaran. Seperti apa sih rumah tradisional Jawa Tengah ? Rumah penduduk dan keraton Jawa biasanya terdiri 3 ruangan : Pendopo, Pringgitan dan Dalem. Seperti di pusat kota Solo.
Keraton Mangkunegaran berlokasi di Jalan Ronggowarsito, Surakarta ( Solo ). Penguasa Mangkunegaran disebut Mangkunegara. Secara resmi, bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara Senopati Ing Ayudha Sudibyaningprang yang ke I, II, III, dst. Orisinil. Seolah ditakdirkan mengembalikan segala yang hilang dari Jawa.
Sejak umur 16, Pangeran Sambernyawa ( Mangkunegara I ) berjuang melawan Belanda.
Mangkunegaran dari dinasti Mataram. Pangeran Sambernyawa ( Raden Mas Said ) memulainya. Sejak umur 16 tahun, beliau telah berjuang. Dengan keahlian militernya, Mangkunegara I menghadapi pasukan gabungan Belanda, Pakubuwana III dan pangeran Mangkubumi sekaligus. Gagah berani.
Penguasa Surakarta dan Yogyakarta membangun kekuasaan dengan simbol. Mangkunegara I dengan aksi. Rasionalisasi kekuasaan ini dilanjutkan pewarisnya. Mangkunegaran II. Kerajaan kuat, kawula makmur. Karya sastra terbit dan dirujuk masyarakat Jawa hingga kini. Mangkunegaran menjadi penyeimbang tangguh dan pandai memainkan kartu truf. Tak suka didikte. Tak segan bertindak tegas menghadapi kekuasaan lain yang merongrong wibawa dan eksistensinya.
Setiap generasi raja Mangkunegaran dipersiapkan menjadi pemimpin yang cakap dan cerdik. Putra mahkota, bergelar Pangeran Prangwadana, secara berjenjang diberi beban tanggung jawab sejak remaja. Penguasa Mangkunegaran : Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkunegara I ( 1757-1795 ), Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara II ( 1796-1835 ), Mangkunegara III ( 1835-1853 ), Mangkunegara IV ( 1853-1881 ), Mangkunegara V ( 1881-1896 ), Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VI (1896-1916), Mangkunegara VII ( 1916-1944 ), Mangkunegara VIII (1944-1987 ), Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IX (1987-sekarang ).
Gaya klasik Eropa pun terasa Jawa di keraton. Kreatif, inovatif, bermartabat.
Keraton Mangkunegaran hari ini. Otoritas wilayahnya tak seluas dulu. Namun, keluarga Mangkunegara tak perlu berkecil hati. Jika NKRI adalah milik kita bersama, maka seluas Indonesia pula kalian bisa berkiprah dan memetik kebanggaan. Suatu hari nanti. We know that. ( foto : skycrapercity )
Mangkunegaran terdiri 2 bangunan utama, Pendopo ( balairung istana, tempat menerima tamu ) dan Dalem ( balairung utama ) yang dikelilingi kediaman keluarga raja. Terbuat dari kayu jati utuh. Keraton indah dan terawat ini dibangun Raden Mas ( 17 Maret 1757 ) setelah pertarungan sengit keluarganya dengan VOC ( East India Company ).
Bangunan yang menghadap ke selatan ini mencermati pertemuan budaya Jawa dan Eropa lalu mengakulturasikannya menjadi milik Jawa. Pendopo beratap joglo baru dibangun masa Mangkunegara IV ( 1866 ). Bangunan Jawa aslinya tak kenal teras. Elemen dari villa Eropa ini lalu diadopsi dengan indah. Gaya klasik dan neo klasik Eropa berpadu dengan semangat neo klasik Jawa. Kolom bulat dari besi cor dan konsolnya menampakkan perpaduan tersebut.
Denah keraton berpola linear dan tertutup. Struktur dinding pemikul menyatukan atap dan dinding. Bukaan jendela dan pintu lebar. Skala ruang tinggi dan luas. Iklim tropis menjadi terasa nyaman. Ornamen dan pahatan secara simbolis menampilkan citra dan fungsi. Empire style menghadirkan kewibawaan raja. Mangkunegaran memang terbuka untuk inovasi dan ide baru.
Bagian timur, Bale Peni, kediaman para pangeran. Bagian barat, Bale Warni, kediaman para putri. Naskah langka agama dan filsafat dalam tulisan Jawa tersimpan di perpustakaan Reksopustoko. Mangkunegara IV membuat perpustakaan di lantai dua ini tahun 1867. Sejarawan dan pelajar mempelajari manuskrip bersampul kulit di sela semilir angin dari jendela kayu yang terbuka lebar. Juga, buku dalam berbagai bahasa, koleksi foto bersejarah dan data perkebunan milik Mangkunegaran.
Pendopo berjoglo terbesar di Indonesia. 10.000 orang tahun 1757 ?
Kereta kencana membawa pangeran tampan dalam sebuah kirab budaya. Seperti melihat film laga kolosal “Saur Sepuh”. Atau Saur Sepuh yang meniru para penghuni keraton ? Saya masih terkagum-kagum dengan budaya kita sendiri. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, semuanya bercita rasa tinggi. Dibalut karya seni adiluhung. Seganteng dan sekreatif itukah leluhur kita ? ( foto : pondrafficial )
Perundingan Giyanti ( 1755 ) membagi pemerintahan Jawa menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Raden Mas lalu membangun kediamannya di tepi Sungai Pepe. Keraton berukuran lebih kecil ini terdiri pamedan, pendopo agung, paringgitan, dalem ageng dan keputren. Tembok kokoh mengelilinginya. Memasuki pintu gerbang utama, tampaklah Pamedan, lapangan luas tempat berlatih pasukan Mangkunegaran. Di timur, terlihat Gedung Kavaleri, bekas kantor pasukan berkuda Mangkunegaran. Revitalisasi keraton sekarang didanai pemerintah melalui pemda. Bangunan dipulihkan, sebagian dengan fungsi berbeda. Contohnya, markas legiun Mangkunegaran ini.
Melewati pintu gerbang kedua, terlihat Pendopo Agung seluas 3.500 m2. Pendopo joglo terbesar di Indonesia, menampung 5.000 – 10.000 orang. Tiang kayu persegi yang menyangga atap joglo berasal dari hutan Danalaya di perbukitan Wonogiri. Elemen konstruksi dihubungkan tanpa paku. Di sini, satu set gamelan dimainkan secara rutin, tiga set lainnya untuk upacara khusus. Warna kuning dan hijau ( padi muda ), warna khas keluarga Mangkunegaran. Lampu antik tergantung di langit-langit. Lukisan Kumudawati berwarna terang menampakkan pengaruh Hindu Jawa : 12 belas bintang astrologi dan 8 kotak berwarna. Kuning berarti siaga, biru berarti mencegah bencana, hitam berarti melawan kemarahan, hijau berarti melawan stres, putih berarti melawan hawa nafsu, oranye berarti melawan rasa takut, merah berarti melawan kejahatan, ungu berarti melawan pikiran jahat.
Di belakang Pendopo, terlihat beranda terbuka bernama Pringgitan. Tangga di sana mengarah ke Dalem Ageng seluas 1.000 m2. Dahulu, ruang tidur pengantin kerajaan. Kini, museum keraton Mangkunegaran. Ada Petanen ( tempat bersemayam Dewi Sri ) berlapis sutera tenun di dalamnya. Juga, perhiasan, senjata, pakaian, medali, perlengkapan wayang, uang logam, gambar raja-raja Mangkunegaran dan benda seni lainnya.
Di belakang Dalem Agung, kediaman keluarga Mangkunegaran terlihat seperti rumah pedesaan yang tenang. Pohon, bunga, semak hias menjadi cagar alam bagi burung yang berkicau dan kupu aneka warna. Air mancur menawarkan kesegaran di bawah matahari. Patung klasik gaya Eropa turut menghiasi.
Beranda dalam bersudut delapan menghadap taman ini, bersama tempat lilin dan perabot Eropa. Kaca berbingkai emas berjajar rapi di dinding. Tampak ruang makan mengintip, dengan jendela kaca berwarna ( pemandangan Jawa ), ruang ganti – rias, dan kamar mandi.
Menyeberang jalan raya, Mesjid Mangkunegaran berdiri anggun, seluas 4.200 m2 dan dipagari tembok berbentuk lengkung. Mesjid Lambang Panotogomo ini diprakarsai Mangkunegara I di Kadipaten. Sebelumnya, terletak di wilayah Kauman, Pasar Legi. Pada masa Mangkunegara II, dipindah ke Banjarsari, lebih dekat ke Mangkunegaran. Abdi dalem yang mengelolanya, sehingga mesjid ini berstatus Masjid Kagungan Dalem Puro Mangkunegaran. Mangkunegara VII meminta arsitek Perancis ikut mendesain ( dalam pemugaran ) kompleks mesjid Mangkunegaran.
Masjid Mangkunegaran terdiri : Serambi ( ruang  depan masjid dengan 18 saka, melambangkan umur Raden Mas saat keluar dari Keraton Kasunanan Surakarta, untuk dinobatkan sebagai Adipati Mangkunegaran. Bedug di serambi  bernama Kanjeng Kyai Danaswara ), Ruang Sholat Utama ( ruang dalam dengan 4 saka guru dan 12 penyangga berhiaskan kaligrafi Qur’an. Kaligrafi juga ditemui di pintu gerbang, kuncungan, saka dan maligin ),Pawestren ( tempat sholat khusus wanita ), Maligin (tempat khitanan putra kerabat Mangkunegaran. Mangkunegaran VII kemudian memperkenankan Muhammadiyah menggunakannya untuk khitanan umum ), Menara ( dibangun tahun 1926, masa Mangkunegaran VII. Di minaret, 4  muadzin mengumandangkan azan ke empat arah berbeda ). KH Imam Rosidi ( penghulu Mangkunegaran ) menamai Masjid Mangkunegaran ini Masjid Al-Wustho ( tahun 1949 ).
Menurut Sudarmono ( sejarawan UNS ), Raden Mas Said sudah mengukuhkan diri sebagai raja dengan Deklarasi Adeging Pura Mangkunegaran ( 24 Februari 1757 ). Sesudah NKRI terbentuk, disusul penghapusan swapraja ( sekitar 1950-an ) dan pemberlakuan UU Pokok Agraria ( 1960 ), otoritas kerajaan di nusantara menciut. Dalam Babad Giyanti dan Babad Lalampahan, Pangeran Sambernyawa dikukuhkan sebagai adipati yang menguasai wilayah Kadaung, Matesih, Honggobayan, Sembuyan, Gunung Kidul, Pajang sebelah utara dan Kedu. Dalam peta sekarang, wilayah tersebut menembus wilayah Karesidenan Surakarta, Kedu, bahkan Daerah Istimewa Yogyakarta ( DIY ). Kenyataan, otoritas Mangkunegaran sekarang tinggal selebar keraton ini.
Mas Ngabehi Supriyanto Waluyo berpakaian layaknya masyarakat umum, meski di lingkungan istana. Sebagai abdi dalem, ia berpakaian adat jika ada acara resmi kerajaan. Abdi dalem pun tinggal 300 orang. Yang setiap hari di lingkungan istana hanya 150 orang. Kini, Mangkunegaran hanya memiliki 3 kantor departemen : Mandrapura ( bagian umum ), Kawedanan Kasatriyan ( mengurus peninggalan sejarah ) dan Reksa Budaya ( perpustakaan dan aktivitas budaya ). Untuk menjaga eksistensinya, Mangkunegaran memanfaatkan subsidi pemerintah. Selebihnya, bertahan dengan aset budaya.
Sudah terbayang sekarang, bagaimana rumah tradisional orang Jawa ? Berkunjunglah supaya lebih mantap. Monggo..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar