Pages

Selasa, 16 Juli 2013

TELAGA WARNA DIENG


Alkisah, hidup seorang ratu yang terkenal di samudera luas sebagai penguasanya. Sang Ratu memiliki seorang puteri yang cantik dan telah tumbuh dewasa. Saat itu kecantikanya sangat terkenal hingga suatu saat datanglah dua orang Kesatria muda berparas tampan yang bermaksud meminang puteri Sang Ratu untuk dijadikan istri.
Pada saat itu, Ratu menjadi sangat bingung. Ia harus memilih salah satu di antara dua Kesatria tampan untuk dipilih menjadi menantunya. Di akhir kebingunganya, munculah ide Sang Ratu untuk mengadakan Sayembara membuat telaga. Siapa yang lebih cepat membuat telaganya, dialah yang boleh mempersunting puterinya.
Pada waktu yang telah ditentukan, dua kesatria tampan itu belomba membuat telaga. Ternyata kesatria pertama lebih cepat dalam membuatTelaga Menjer dari pada kesatria kedua yang membuat telaga Pengilon. Oleh karena itu, Kesatria pertama pun dinyatakan sebagai pemenang dan berhak menyunting puteri Ratu sebagai istrinya.
Waktu berjalan dan belum berselang dua hari mereka menikah, Ratu disertai puterinya berwisata ke Dieng. Saat mereka tiba di kawasan yang sekarang menjadi cagar alam serta menikmati keindahan panorama dan kemilaunya telaga pengilon, maka saat pandangan Sang Ratu tertuju ke telaga Pengilon, ia begitu terkesan dan serta merta mencari informasi siapa gerangan pembuat telaga ini. Seperti diceritakan, pembuatnya tidak lain adalah kesatria kedua yang kalah dalam perlombaan.
Tak lama kemudian, Sang Ratu menaggil pengawalnya dan memerintahkan untuk menghadirkan menantunya, Si Kesatria pertama, kehadapanya. Begitu menantunya datang menghadap, Sang Ratu langsung bersabda, "Kamu saya batalkan menjadi menantu, dan kamu saya kutuk menjadi naga untuk menjaga samudera". Kemudian posisi kesatria pertama sebagai menatupun digantikan kesatria kedua yang kalah dalam lomba.
Mengapa Sang Ratu tidak teguh pendirianya lalu berubah pikiran ? Alkisah, saat menikmati indahnya telaga pengilon, Sang Ratu dan puterinya sangat terkesan. Dalam hati mereka membandingkan dengan telaga buatan kesatria pertama yang biarpun waktu pembuatanya lebih cepat, namun buatanya kasar. Airnya beriak/bergelombang. Ini menandakan bahwa sifat pembuatnya kurang baik. Sebaliknya, telaga Pengilon buatan kesatria kedua airnya jernih, berkilau-kilau, tenang, penuh kedamaian dan semua ini menandakan bahwa kesatria kedua pembuat telaga Pengilon ini memiliki seifat dan hati yang baik.
Karena sangat terkesan, lalu Sang Ratu dan puterinya pun mandi. Mereka menyangkutkan pakaianya di pepohonan. Ditengah-tengah keasyikan mereka berkecimpung di dalam air yang sejuk, sekonyong-konyong datang angin kencang yang menerbangkan pakaian sang Ratu dan puterinya yang berwarna-warni dan terjatuh di bagian telaga yang lain. Sesaat air telaga itu berubah warnanya, lalu terciptalah telaga warna sebagai akibat jatuhnya pakaian Sang Ratu dan puterinya ("yang luntur") kedalam air telaga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar