Pages

Selasa, 23 Juli 2013

MAKAM KADILANGU DEMAK JATENG


KANJENG SUNAN KALIJAGA

Perjalanan wisata religi di bulan Ramadan ini, tidaklah lengkap jika tidak mampir ke Desa Kadilangu, Kecamatan Demak Kota, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Dari Masjid Agung peninggalan Walisongo yang kesohor itu, letak Desa Kadilangu hanya berjarak 12 km arah timur laut dari pusat kota Demak, yang berjulukan Kota Wali. Di sinilah terdapat makam salah seorang wali termuda dan sekaligus tersohor, Sunan Kalijaga. Di kompleks makam yang luasnya sekitar 1 hektare, terdapat pula Masjid Sunan Kalijaga yang berdiri tahun 1532.

Di antara delapan wali lainnya, Kalijaga merupakan yang paling muda diangkat sebagai wali, memiliki ilmu paling tinggi, dan paling panjang usianya. Kalijaga konon lahir tahun 1455 dan wafat pada tahun 1586. Usianya mencapai 131 tahun. Namun sejumlah literatur menyebutkan, kelahiran maupun kematiannya tidak diketahui. Karena usianya yang panjang itu pula, Kalijaga disebutkan mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram di bawah pimpinan Panembahan Senopati.

Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Salah satu dari empat tiang kayu raksasa (sakaguru) di Masjid Agung Demak, merupakan karya Kalijaga, yang bukan terbuat dari kayu utuh, melainkan disusun dari beberapa potongan balok yang diikat menjadi satu (saka tatal). Kalijaga lahir dengan nama Raden Said, putra Arya Wilatikta (Adipati Tuban) dan Dewi Sukowati. Ia memiliki sejumlah nama panggilan, antara lain Lokajaya, Syeh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman.

Mengenai asal-usul nama Kalijaga terdapat beberapa versi. Warga masyarakat Cirebon menganggap nama itu berasal dari Dusun Kalijaga di Cirebon. Kalijaga memang pernah tinggal di sana dan bersahabat erat dengan Sunan Gunungjati. Namun masyarakat di Jateng mengaitkan nama itu dengan kebiasaan Sang Wali yang senang melakukan tapa kungkum (bertapa dengan berendam diri di sungai/kali, sehingga muncul istilah ''jaga kali''. Tapi ada pula yang mengatakan kalau istilah itu berasal dari bahasa Arab, qadli dzaqa, untuk menunjuk statusnya sebagai penghulu suci kesultanan.

Kalijaga merupakan ulama yang paling lama menjalankan tugas dakwahnya. Dia dikenal sebagai murid kesayangan Sunan Bonang. Pola dakwah yang dikembangkannya mirip dengan guru sekaligus sahabatnya tersebut. Kalijaga juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana yang efektif untuk berdakwah.

SEJARAH UMUM

Menyadari begitu kuatnya pengaruh Hindu-Jawa saat itu, Kalijaga tidak melakukan dakwah secara frontal, melainkan toleran pada budaya lokal. Menurutnya, masyarakat akan menjauh kalau diserang pendiriannya. Dengan pola ''mengikuti sambil memengaruhi'', dia mampu mendekati masyarakatnya secara bertahap. Prinsipnya, kalau ajaran Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama akan hilang. Tidak heran kalau metode Kalijaga dalam mengenalkan Islam berkesan sinkretis. Ia menggunakan seni ukir, seni suara suluk, dan gamelan sebagai sarana dakwahnya.

Kalijaga pun membuat wayang kulit dan cerita wayang Hindu yang sengaja ''diislamkan''. Sunan Giri lantas menentangnya, karena wayang beber pada masa itu menampilkan gambar manusia utuh yang tidak dengan sesuai ajaran Islam. Tidak kurang akal, Kalijaga mengkreasi wayang kulit, yang bentuknya jauh dari ujud manusia utuh. Inilah ijtihadnya di bidang fikih, dalam upaya melancarkan misi dakwahnya.

Baju takwa (koko) yang tren di kalangan muslim, atau perayaan sekatenan di Yogyakarta dan Solo, Garebeg Mulud, dan Layang Kalimasada disebut sebagai buah kreasi Kalijaga. Bahkan lanskap pusat kota berupa keraton, alun-alun, dengan dua beringin dan masjid, pun diyakini sebagai karyanya. Metode dakwah Kalijaga tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui dirinya. Di antaranya Adipati Kartasura, Kebumen, Banyumas, dan Pajang (sekarang Kotagede).

Sebelum wafat, Kalijaga berpesan agar jasadnya dimakamkan di atas tanah pemberian Raden Patah, yang berada di Desa Kadilangu. Di tempat itu pula, hingga saat ini tiap tanggal 10 Zulhijah, berlangsung ritual penyucian pusaka (penjamasan) peninggalan Kalijaga, antara lain Agemen Kyai Ontokusumo, Keris Kyai Crubuk, dan Keris Kyai Sirikan. Juru kunci kompleks makam Kadilangu, R Prayitno, mengungkapkan, makam Kadilangu berada di bawah pengelolaan Kasepuhan Ahli Waris Sunan Kalijaga yang dipimpin R Moh Soedioko. Kompleks makam ini ramai dikunjungi para peziarah dari berbagai kota di Tanah Air hampir setiap hari.

Yang paling ramai, tercatat pada saat upacara penjamasan peninggalan Kalijaga, yang biasa digelar menjelang peringatan Hari Idul Adha. ''Kalau pada hari biasa, makam selalu ramai didatangi para peziarah pada hari Jumat Pon, Pahing dan Kliwon. Pintu pendapa menuju makam Sunan Kalijaga akan dibuka, dan para peziarah diizinkan masuk secara bergantian untuk bersembahyang di dalam makam. Makam dibuka dari jam 8 pagi hingga tutup jam 5 sore,'' ujar Prayitno yang merupakan juru kunci keempat, yang ditunjuk oleh Kasepuhan Ahli Waris Sunan Kalijaga.

Menurut Prayitno, selama Ramadan ini sebenarnya kompleks makam ditutup, namun karena umumnya peziarah tetap datang, maka makam tetap dibuka untuk umum. Kendati demikian, pintu masuk pendopo yang terbuat dari kayu jati harus ditutup, dan para peziarah hanya dapat bersembahyang di bawah anak tangga menuju pintu masuk, atau di sekitar kompleks yang berdiri makam para kerabat sunan.

Kompleks makam Kadilangu terdiri atas sembilan blok yang seluruhnya berdiri 175 makam. Makam Kalijaga sendiri terletak di blok satu bersama ayah, ibunya, Dewi Arofah Retno Djumilah, dan adik perempuannya, Dewi Rosowulan. Kadilangu, yang kering dan tandus, menjadi saksi bisu kejayaan dan perjuangan Sunan Kalijaga menyebarkan syiar Islam di Tanah Jawa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar