Papuma tidak bedanya “surga” bagi kalangan wisatawan. Selain menyajikan berbagai panorama menenangkan, suatu negeri kecil yang menjorok ke laut di pantai selatan Jawa Timur juga menyimpan berbagai flora dan fauna tropis khas. Siapapun yang telah mengunjungi pantai landai berpasir putih tidak pernah bosan untuk menikmatinya. kondisi geografis yang stabil, bahkan membuat daerah wisata ini bisa dinikmati dalam cuaca apapun, baik di musim kemarau dan selama musim penghujan tiba.
Ketika Tanjung Papuma dalam kondisi gelombang yang cukup tenang. Permukaan laut kelihatan hijau kebiru-biruan selalu mengundang setiap pengunjung untuk berenang atau hanya menyentuh kaki riak gelombang rolling ke pantai. Selama waktu itu, setiap wisatawan tergoda untuk melayarinya. Lebih dari itu, pasir putih yang sangat halus dan tidak pernah meninggalkan rasa gatal di kulit juga dapat menjadi magnet bagi wisatawan untuk menyukai Tanjung Papuma.
Ketika kita palingkan pandangan ke arah barat, kemudian dari Sitihinggil ini kita bisa menikmati sebuah pulau besar yang duduk di tanjung kejauhann tengah. Oleh warga Jember, pulau ini dikenal sebagai Nusa Barong. Dari Papuma, tanpa penduduk pulau ini sekitar 50 mil laut dengan waktu tempuh sekitar empat jam dengan perahu.
Perjalanan di Papuma merasa tidak lengkap jika kita tidak mendapatkan kehidupan nelayan lokal di senja. Beberapa jam sebelum matahari terbenam, puluhan nelayan dari desa Chedi, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, selalu tampak menarik perahu dan hasil tangkapan mereka berupa ikan krapu, kakap, tuna, atau tuna, dapat langsung dibeli dan dibakar di perapian alam dari cabang-cabang kayu kering di pantai. Pantai di Tanjung Papuma memang fantastis panorama.
Pantai ini hanya dirambah oleh Perhutani disebut dengan nama Malikan. Wajah Malikan bukanlah pasir hitam atau putih, tetapi lebih dari sebuah batu datar yang mirip kerang raksasa berjajar di sepanjang bentangan pantai yang menghadap ke barat.
Karang kecil, berwarna-warni mudah ditemukan di sini. Ini adalah fragmen gelombang terumbu-ditanggung. Jika beruntung, kita juga bisa menemukan lobster di sela-sela batu datar di pantai Malikan. Selain itu, ketika air laut surut. Udang-udang oleh nelayan lokal disebut urang barong selalu terdampar saat omba
Tidak ada komentar:
Posting Komentar