Istana Kepresidenan Bogor terletak di Jalan Ir. H. Juanda No.1 Kota
Bogor, Propinsi Jawa Barat, sekitar 60 km dari kota Jakarta dengan luas
sekitar 28,86 hektar pada ketinggian 290 meter dari permukaan laut.
Setelah dirasa bahwa kota Batavia terlalu panas dan ramai sehingga
orang-orang Belanda mencari tempat yang berhawa sejuk di luar kota
Batavia. Gubernur Jenderal Belanda, G.W. Baron Van Imhoff, melakukan
pencarian dan menemukan sebuah tempat yang baik dan strategis di sebuah
kampung yang bernama Kampoeng Baroe, pada tanggal 10 Agustus 1744.
Setahun kemudian, pada tahun 1745, Gubernur Jenderal Baron Van Imhoff
memerintahkan pembangunan atas tempat pilihannya itu sebuah pesanggrahan
yang diberi nama Buitenzorg (bebas dari masalah/kesulitan).
Sketsa bangunannya mencontoh arsitekur Istana Blenheim di Inggris, kediaman Duke of Marlborough, dekat kota Oxford di Inggris.
Istana Buitenzorg mengalami kerusakan yang parah ketika pada masa perang
Banten di bawah pimpinan Kiai Tapa dan Ratu Bagus Buang yang terjadi
pada tahun 1750-1754. Oleh Baron Van Imhoff, istana yang telah rusak
berat itu diperbaiki kembali. Pada masa kekuasaan Gubernur Jenderal
Daendels (1808-1811) gedung itu diperluas dengan melakukan penambahan
lebar pada sisi kiri dan kanan gedung. Daendels mendatangkan dan
memeliharan 6 pasang rusa totol (axis-axis) yang berasal dari perbatasan
India-Nepal, dan populasi saat ini mencapai 785 ekor.
Kemudian pada masa pemerintahan Gubernur Jendal Baron van der Capellen
(1817-1826), dilakukan perubahan besar-besaran. Istana semakin megah
dengan didirikannya sebuah menara di tengah-tengah gedung induk,
sementara lahan di sekeliling istana dijadikan Kebun Raya untuk
keperluan riset Botani yang diresmikan pada tanggal 18 Mei 1817.
Pada tanggal 10 Oktober 1834 gempa bumi menyebabkan kerusakan yang parah
atas bangunan istana. Pada masa pemerintahan Albertus Yacob Duijmayer
van Twist (1851-1856), bangunan lama yang terkena gempa dirobohkan dan
dibangun kembali seluruhnya menjadi bangunan baru satu tingkat dengan
mengambil desain arsitektur Eropa abad IX.
Penyelesaian bangunan Istana Buitenzorg selesai pada masa pemerintahan
Gubernur Jenderal Charles Ferdinand Pahud de Montager (1856-1861).
Penghuni terakhir istana adalah Gubernur Jenderal Tjarda Van Stackenborg
Stachouwer (1936-1942) yang secara terpaksa harus menyerahkan Istana
Buitenzorg ini kepada Jenderal Imamura sebagai pemerintah pendudukan
Jepang.
Tercatat sebanyak 44 Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang pernah
menjadi penghuni Istana Buitenzorg ini. Selanjutnya istana tersebut
diambil alih oleh pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1949 dan
difungsikan sebagai Istana Kepresidenan Republik Indonesia.
Fungsi istana berubah menjadi kantor urusan Kepresidenan serta menjadi
kediaman resmi Presiden Republik Indonesia. Sejalan dengan fungsi
tersebut, telah banyak peristiwa penting yang terjadi di istana, di
antaranya Konferensi Panca Negara pada tanggal 28-29 Desember 1954,
pembahasan masalah konflik Kamboja pada forum JIM (Jakarta Informal
Meeting) tanggal 25-30 Juli 1988. Peristiwa penting lainnya adalah
pertemuan para pemimpin APEC pada tanggal 15 November 1994. Di istana
ini pula terjadinya peristiwa penandatanganan Surat Perintah 11 Maret
1966 yang dikenal dengan sebutan Supersemar.
Istana Kepresidenan Bogor memiliki koleksi buku sebanyak 3.205 buah.
Selain itu, istana ini juga menyimpan banyak benda seni bernilai tinggi,
baik berupa lukisan, patung, serta keramik dan benda-benda seni
lainnya. Hingga kini lukisan yang terdapat di Istana Kepresidenan Bogor
berjumlah 520 buah.
Di istana ini terdapat 216 buah patung beragam jenis dan ukurannya. Di
istana ini juga terdapat koleksi berbagai jenis keramik sebanyak 196
buah. Semua itu tersimpan dan terawat baik di museum-museum yang ada di
lingkungan Istana Kepresidenan Bogor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar